Tampilkan postingan dengan label Tenggarong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tenggarong. Tampilkan semua postingan

10 November ala Indomie Rebus



poto: doc

Kebayang November 1945 yang lalu di Surabaya sama seperti sekarang di Yogyakarta—Nopember 2015—musim hujan telah tiba. Saat itu mungkin Bung Tomo dengan pemuda berkumpul bersama berteduh disalah satu rumah perlindungan. Aku yakin walau saat itu udara sangat dingin, Bung dan Bung-bung yang lainnya tidak akan uring-uringan di atas kasur, berselimut tebal seperti yang aku lakukan saat ini—mager, ataupun masak Indomie rebus dengan telur dadar setengah matang di atasnya, seperti yang sering dilakukan teman saya Salman ketika hujan tiba.

Songkok Ayah


poto: doc.

Biasanya selepas Mahgrib ia duduk di ruang tamu rumah kami, dengan sarung masih melingkar pada pinggang dan menggantung hingga ujung atas mata kaki. Songkok di kepalanya sedikit terangkat memperlihatkan uban pada batang-batang rambutnya. Dengan baju polo menutup badan.
Rumah kami berada disebuah gang ditengah kota, dan sangat dekat dengan masjid, berjarak kurang lebih 10 meter, bila ada kesempatan ia selalu menunaikan ibadah di sana. Seperti biasanya ia diam dan tenang jika baru pulang dari Langgar.