Berorganisasi seperlunya dan rekreasi sepuasnya

08.49 0 Comments A+ a-

photo: Muhammad Ariel Fahmi

Hari ini aku sedikit menyesal, seharian hanycatatan biskan waktu di dalam kamar kontrakan yang dingin dan agak gelap itu, dan pikiran-pikiran yang memuakkan itu kembali menggerayangi otakku yang pemalas ini. Padahal aku baru seminggu pulang dari Tenggarong dan menemukan kembali ketenangan dalam hidup, setelah 25 hari menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibu. Banyak wejangan dan pembelajaran yang aku dapatkan saat berada di rumah, itu-lah yang membuatku senang apabila waktu libur telah tiba dan dapat kembali pulang.

Tapi Tuhan tidak pernah membiarkanku terlena dalam kesenangan itu. Dia selalu mempunyai jalan untuk menarikku kembali dalam pokok-pokok permasalahan diri manusia, yang aku tahu sebagai sumber utama kemunculan kemanusiaan itu sendiri. Selama di Tenggarong hal-hal yang ku tinggalkan di Jogja selalu menggangu. Aku sadar semua itu akan sama ketika sepulang ku kembali ke Jogja. Bahkan bisa lebih buruk.


2 hari setibanya aku di Jogja. Selama 5 hari setelahnya aku harus mengeluarkan semua tenaga untuk mengangkat seluruh barang dan pindah ke kontrakan baru yang jaraknya kurang lebih 800 meter dari sebelumnya. Selama itu pula aku tidak menghubungi teman-teman organisasi bahwa aku sudah tiba di Jogja sejak kemarin.


Bukan karena ingin fokus melaksanakan pindah kontrakan. Tetapi ada hal yang membuatku masa-bodoh dengan organisasi ini—sampai akhirnya aku tersadar kembali untuk tidak ‘seperti’ itu. Melihat kondisi-nya yang kian terseret-seret—atau mereka yang sadar saja mersakan—membuatku jenuh untuk memikirkannya. Hanya membikin pusing, dan hari ini adalah puncaknya kepala ini berdenyut-denyut dengan hebatnya. Teringat olehku perkataan Ayah saat di rumah. “Nikmati perjalananmu selama di Jogja, dan anggap itu adalah perjalanan rekreasi. Agar kamu tidak stres dibuatnya.” Lekas aku berusaha untuk kembali dan keluar dari pikiran-pikiran yang tidak meng-enakan hati ini.


Tidak terasa sudah hampi 2 tahun lebih aku menghabiskan waktu luangku di Lembaga ini. Sejak menjadi kader hingga sekarang menempati posisi sebagai pengurus tetap Lembaga. Pada saat-saat tertentu aku selalu merindukan posisi kader seperti dulu, yaitu ketika para anggota Study Club ‘Konsentrasi’—terutama inti dan para koordinator—saling menopang satu sama lain, yang saat ini tidak kutemukan ketika menjadi pegurus. Muingkin di sini aku dapat melesetkan satu kalimat filsuf yang disampaikan oleh Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran (hlm. 96): "nasib terbaik adalah tidak masuk organisasi, yang kedua tetap masuk tapi gugur dikaderisasi, dan tersial adalah menjadi pengurus tua." Kalimat tersebut ku serahkan pada pembaca bagaimana memaknainya: itu-lah guna Tuhan melekatkan akal pada manusia, agar berbeda dan tak sama satu sama lain.



Jangan terlalu serius membaca tulisan ini, bisa saja aku berbohong dan ini hanya omongkosong demi meramaikan blog pribadi. Santai saja. Santai dalam ketidak acuhan: cuihh ! awas kopi Anda sudah mulai dingin. Kembali kekisah tadi, setiap hari aku menjalani kegiatan dalam organisasi yang dibarengi dengan kehidupan fana ku yang lain: kuliah, uang, orangtua yang menua dan segera pensiun, serta tetek bengek lainnya. Aku menemukan hal yang membuatku sadar—entah itu baik atau buruk—yaitu, buat apa aku di sini (berorganisasi) ? "Ini Yogyakarta bung, kau bisa menemukan banyak hal yang lebih berguna di sini, dari pada membuang waktu yang hanya tersisa sedikit, lalu kau harus kembali pulang ke kampung halaman tanpa memperoleh hasil yang lebih, syukur-syukur bisa ikut berkontribusi memajukan ‘rumah’ sendiri sepulang nanti.



Aku hanya datang dan bekerja saat ada kegiatan atau penggarapan produk. Jika tugasku telah selesai, sudah terputus, "selamat berjumpa kembali ditugas-tugas selanjutnya. Ya kawan-kawan." Urusan kedekatan emosional peftt. Nongkrong apa lagi. Kau tahu aku juga memiliki teman di luar sana, dan kehidupan lain. Menghabiskan waktu membaca buku di kontrakan di atas kasur yang nyaman. Beruntung apabila memiliki seorang kekasih, bertambah satu lagi farian-ku untuk menghabiskan waktu. Aku serahkan saja semua hal-hal yang berkaitan dengan Lembaga kepada orang yang lebih rela untuk itu. Rela mencurahkan tenaga dan pikirannya secara lebih. Kadang aku merasa kasian dengan mereka. Tapi sudah-lah itu pilihan mereka.

Belum lama ini salah seorang teman ku berlaga menghilang dari peredaran. Kami tak dapat menghubunginya sama sekali. Menyatroni kostnya-pun hanya se-onggok motor dan setumpuk sepatu berdebu yang kami dapatkan. Dia menghilang bersama tanggungjawabnya. Baik jika dia tetap membawa tanggung jawabnya pulang, lah.. kalau ditinggalkan juga seperti motornya, tak tahu aku bakal berdebu seperti apa tanggung jawab itu. Sarang laba-laba di sana-sini.


Duh.. merinding bila membicarakan kalimat “Tanggung jawab,” bila mendengar atau tertimpali dipundak rasanya seperti pintu neraka terbuka setengah-berderak dan seorang iblis wanita bertubuh merah-sexy melambai-lambai di ambang pintu dengan lidah menjulur-julur. Lalu berkata, “kutagih janjimu, mas."


Tapi aku bersyukur dengan semua hal yang terjadi di atas. Begitu berkelok-keloknya yang mengisi rentang waktu ini. Dilengkapi dengan berbagai manusia yang berbeda-beda. Kejadian-kejadian yang memuakkan, dan sedikit senangnya. Mungkin bahagianya juga banyak untuk orang-orang sepertiku yang masa bodoh lah dengan semua ini. Beribu selamat untuk teman-teman yang tetap bertahan dan rela menghabiskan sebagian besar waktu dan pikiran, serta tenaganya untuk Lembaga ini, Tuhan bersama kalian.


Sebagai penutup, kuberikan satu kalimat agar aku terlihat sedikit suci haha:

“…sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah: ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa

-Soe Hok Gie-


Dan aku tetap dengan diriku: ini Joga bung ! Bersenang-senanglah ! Haha.

*catatan ini dibuat pada tanggal 18/02/2016