Mempersamakan-perbedaan itu bukan Alkulturasi

23.59 1 Comments A+ a-



poto: doc.

Beberapa bulan belakangan ini koflik dan kesenjangan sosial begitu gencar terdengar di media masa, tidak terkecuali  keadaan sosial yang terjadi di sekitar lingkunganku. Baik itu di kampus, atapun di pemukiman baru tempat aku mengontrak rumah. Teringat betul perasaan pertama kali berada di lingkungan baru ini: senang. Senang karena tahu tempat baru ini adalah salah satu wilayah di Kota A yang sebagian besar penduduknya warga asli A—kalau saya tidak keliru. Berangkat dari situ, aku berpikir positif akan mendampatkan hal-hal baru dan menarik, langsung dari penduduk setempat.

10 November ala Indomie Rebus

07.52 0 Comments A+ a-



poto: doc

Kebayang November 1945 yang lalu di Surabaya sama seperti sekarang di Yogyakarta—Nopember 2015—musim hujan telah tiba. Saat itu mungkin Bung Tomo dengan pemuda berkumpul bersama berteduh disalah satu rumah perlindungan. Aku yakin walau saat itu udara sangat dingin, Bung dan Bung-bung yang lainnya tidak akan uring-uringan di atas kasur, berselimut tebal seperti yang aku lakukan saat ini—mager, ataupun masak Indomie rebus dengan telur dadar setengah matang di atasnya, seperti yang sering dilakukan teman saya Salman ketika hujan tiba.

Songkok Ayah

04.30 0 Comments A+ a-


poto: doc.

Biasanya selepas Mahgrib ia duduk di ruang tamu rumah kami, dengan sarung masih melingkar pada pinggang dan menggantung hingga ujung atas mata kaki. Songkok di kepalanya sedikit terangkat memperlihatkan uban pada batang-batang rambutnya. Dengan baju polo menutup badan.
Rumah kami berada disebuah gang ditengah kota, dan sangat dekat dengan masjid, berjarak kurang lebih 10 meter, bila ada kesempatan ia selalu menunaikan ibadah di sana. Seperti biasanya ia diam dan tenang jika baru pulang dari Langgar.