Songkok Ayah

04.30 0 Comments A+ a-


poto: doc.

Biasanya selepas Mahgrib ia duduk di ruang tamu rumah kami, dengan sarung masih melingkar pada pinggang dan menggantung hingga ujung atas mata kaki. Songkok di kepalanya sedikit terangkat memperlihatkan uban pada batang-batang rambutnya. Dengan baju polo menutup badan.
Rumah kami berada disebuah gang ditengah kota, dan sangat dekat dengan masjid, berjarak kurang lebih 10 meter, bila ada kesempatan ia selalu menunaikan ibadah di sana. Seperti biasanya ia diam dan tenang jika baru pulang dari Langgar. 


Duduk pada sofa, kedua belah kakinya diangkat dari permukaan ubin, dengan satu kaki melintang menyediakan tempat bagi setungkai tangannya di atas lutut, dan cigarette diapit di antara jemarinya yang menghitam. Rokok Sempoerna Mild merahnya terbakar perlahan, terdengar gemertak tembakau terlalap bara tiap kali ia manarik satu nafas.

 “Mau teh atau kopi susu ?” mamak memulai, hanya suaranya yang terdengar.
“Kopi susu, Mak.” Cepat Ayah menjawab.

Tak terdengar lagi suara mamak. Dan ayah kembali diam dan sibuk menikmati rokok pada tangannya. Aku tahu itu adalah waktu-waktu terbaiknya selama berada di rumah, maka tak berani aku mengganggunya. Semasa ku bocah hingga sekarang, ayah selalu berpindah-pindah tugas. Barang 7 tahun ia pernah dinas di kota tempat ku tinggal, dan sisanya diberbagai kota disekitaran provinsi. Walau begitu, setiap 3 hari sekali ia memerlukan pulang, tidak penting berapa pun jauhnya jarak. Seorang teman ayah bertanya: Kenapa setiap 3 hari sekali pulang ?

 “Karena anak dan istri ku ada di sana,” jawab ayah.

Diusianya yang telah menginjak 55 tahun, menjadi iba bagi seorang anak kepada ayahnya yang merelakan fisik dan pikiran untuk bekerja, serta memangkas jarak yang tidak pendeknya, hanya untuk berkumpul satu-dua hari dengan anak dan istri yang dikasihi. Pernah suatu kali ketika hujan deras ia pergi ke tempat dinasnya yang berada di luar kota, ayah memerlukan memutar kembali ke rumah, karena sebatang pohon yang memalangi jalan akibat badai menyebabkan kemacetan. Ternyata tak hanya jarak pikirku, juga maut dan bahaya alam mengintai pengabdian ayahku pada keluarga dan negara. Juga pihak-pihak yang tidak suka pada ayah, menjadi bahaya tersendiri yang harus ditangani 
dengan cara tersendiri pula. 

Aku tersadar dari perenungan ku oleh kedatangan mamak yang membawa secangkir kopi susu panas di atas nampan palstik. Segera disuguhkannya di depan suami yang dihormatinya. Menyadari hal itu, ayah cepat menurun kakinya, dan menyambut secangkir di atas meja, lalu menseruput pada ujungnya. Tanpa berbicara, mamak seperti sudah paham betul akan ungkapan terimakasih yang diutarakan suaminya dengan isyarat tubuh, dan membalasnya dengan senyuman terbuka, nampak gigi mamak yang rata dan putih. Mungkin ini yang ku kira tingkatan paling tinggi suatu hubungan antara dua orang anak manusia yang telah mencapai titik bekunya. Hanya isyarat ? tak perlu lagi ucapan dari bibir ? terimakasih itu ? hanya dengan isyarat dan senyuman ? luar biasa kiraku. 

Detak jam semakin keras terdengar. Bukan kebetulan namun karena jarak pasar tradisional cukup dekat dari pemukiman kami, maka rang-orang yang berada dilingkungan ku sebagian besar adalah pedagang yang berasal dari luar daerah: Banjar, Bugis, dan Jawa yann terbanyak terutama Jawa-Timur. Mereka berdagang pada siang hari dan dimulai saat fajar. Bila selepas mahgrib di malam-malam biasa, keadaan kampung telah sunyi, hanya samar terdengar orang berbincang di rumah-rumahnya sendiri. Sama seperti keluarga ku, mereka telah terbuai ayun malam bersama menghabiskan waktu bersama teman hidup. Yang gaduh tinggal anak-anak yang mengekost diloteng rumahku. Anak-anak gadis itu. Ah.. tidak satupun berani ku dekati mereka. 

Malam ini memang berbeda dari sebelumnya, kami bertiga tidak banyak berbincang dan tenang dengan diri masing-masing. Cangkir bening itu telah kosong, yang tersisa hanya bubuk kopi pada dasarnya. Mamak segera mengangkat secangkir itu dan membawanya ke dapur. Aku masih terpaku pada letakku semula, ditentang ayah. Pada asbak sudah tergeletak dua puntung rokok, dan dia kembali membakar satu lagi, menghembuskannya. Ayah seorang perokok-kuat, dulu sebelum Sempoerna, rokoknya adalah Gudang Garam Filter. Dalam sehari ia biasa menghabiskan 2 bungkus rokok, ya. Jika dulu lebih dari pada itu. 

Azan Isya telah bersahut-sahutan. Langgar terjauh di sebelah timur kota telah berada seperempat perjalanan dalam kumandang panggilanNya, yang terdekat baru memulai dengan takbir. Ayah segera mematikan lintingnya yang belum terbakar habis. Memperbaiki letak songkok segera ia berdiri pada ubin, melangkah perlahan meninggalkan sofa dan beranjak pergi menuju masjid melalui pintu depan. Dari luar terdengar: 

“Nak, ke Mesjid. Cepat.” Perintah ayah kepadaku, anak satu-satunya yang tinggal hidup satu atap dengannya. Dan anaknya yang lain berada jauh ditempat lain untuk sekolah. 

Memang seorang yang menakutkan dan ku hormati. Ayah. Sayang ? sudah tidak perlu lagi ku ungkapkan, cukup doa-doaku saja yang mewakili menghadap Tuhan. Sehat dan kedamaian, serta surga menjadi pengharapan ku kepada sang Illahi bagi ayah dan juga mamak, mamak, mamak, seperti anjuran Sang Terakhir. 

Ayah selalu mengagumkan dengan tindak-tanduknya. Bahkan diamnya selepas solat isya ini telah memberikan ku suatu pemahaman baru akan manusia dan pikirannya: bahwa manusia sejatinya adalah ketenangan itu sendiri, dan riuhnya adalah bumi dan langit tempat ia (manusia) mengabdi. Ayah pun tertidur di atas tilam, depan televisi, masih dengan sarungnya itu. Tidak bertutup badan lagi. Nampak kebahagian pada wajah tenangnya. 

*catatan ini di tulis setelah 2 tahun saya tidak tinggal dengan kedua orangtua 
13/11/2015