Songkok Ayah
Biasanya selepas Mahgrib ia duduk di ruang tamu rumah kami, dengan sarung masih melingkar pada pinggang dan menggantung hingga ujung atas mata kaki. Songkok di kepalanya sedikit terangkat memperlihatkan uban pada batang-batang rambutnya. Dengan baju polo menutup badan.
Rumah kami
berada disebuah gang ditengah kota, dan sangat dekat dengan masjid, berjarak
kurang lebih 10 meter, bila ada kesempatan ia selalu menunaikan ibadah di sana.
Seperti biasanya ia diam dan tenang jika baru pulang dari Langgar.
Duduk pada
sofa, kedua belah kakinya diangkat dari permukaan ubin, dengan satu kaki
melintang menyediakan tempat bagi setungkai tangannya di atas lutut, dan cigarette
diapit di antara jemarinya yang menghitam. Rokok Sempoerna Mild merahnya
terbakar perlahan, terdengar gemertak tembakau terlalap bara tiap kali ia
manarik satu nafas.
“Mau teh atau kopi susu ?” mamak
memulai, hanya suaranya yang terdengar.
“Kopi susu,
Mak.” Cepat Ayah menjawab.
Tak
terdengar lagi suara mamak. Dan ayah kembali diam dan sibuk menikmati
rokok pada tangannya. Aku tahu itu adalah waktu-waktu terbaiknya selama berada
di rumah, maka tak berani aku mengganggunya. Semasa ku bocah hingga sekarang,
ayah selalu berpindah-pindah tugas. Barang 7 tahun ia pernah dinas di kota
tempat ku tinggal, dan sisanya diberbagai kota disekitaran provinsi. Walau
begitu, setiap 3 hari sekali ia memerlukan pulang, tidak penting berapa pun
jauhnya jarak. Seorang teman ayah bertanya: Kenapa setiap 3 hari sekali pulang
?
“Karena
anak dan istri ku ada di sana,” jawab ayah.
Diusianya
yang telah menginjak 55 tahun, menjadi iba bagi seorang anak kepada ayahnya
yang merelakan fisik dan pikiran untuk bekerja, serta memangkas jarak yang
tidak pendeknya, hanya untuk berkumpul satu-dua hari dengan anak dan istri yang
dikasihi. Pernah suatu kali ketika hujan deras ia pergi ke tempat dinasnya yang
berada di luar kota, ayah memerlukan memutar kembali ke rumah, karena sebatang
pohon yang memalangi jalan akibat badai menyebabkan kemacetan. Ternyata tak
hanya jarak pikirku, juga maut dan bahaya alam mengintai pengabdian ayahku pada
keluarga dan negara. Juga pihak-pihak yang tidak suka pada ayah, menjadi bahaya
tersendiri yang harus ditangani
dengan cara
tersendiri pula.
Aku tersadar
dari perenungan ku oleh kedatangan mamak yang membawa secangkir kopi
susu panas di atas nampan palstik. Segera disuguhkannya di depan suami yang dihormatinya.
Menyadari hal itu, ayah cepat menurun kakinya, dan menyambut secangkir di atas
meja, lalu menseruput pada ujungnya. Tanpa berbicara, mamak seperti sudah paham
betul akan ungkapan terimakasih yang diutarakan suaminya dengan isyarat tubuh,
dan membalasnya dengan senyuman terbuka, nampak gigi mamak yang rata dan putih.
Mungkin ini yang ku kira tingkatan paling tinggi suatu hubungan antara dua
orang anak manusia yang telah mencapai titik bekunya. Hanya isyarat ? tak perlu
lagi ucapan dari bibir ? terimakasih itu ? hanya dengan isyarat dan senyuman ?
luar biasa kiraku.
Detak jam
semakin keras terdengar. Bukan kebetulan namun karena jarak pasar tradisional
cukup dekat dari pemukiman kami, maka rang-orang yang berada dilingkungan ku
sebagian besar adalah pedagang yang berasal dari luar daerah: Banjar, Bugis,
dan Jawa yann terbanyak terutama Jawa-Timur. Mereka berdagang pada siang hari
dan dimulai saat fajar. Bila selepas mahgrib di malam-malam biasa, keadaan
kampung telah sunyi, hanya samar terdengar orang berbincang di rumah-rumahnya
sendiri. Sama seperti keluarga ku, mereka telah terbuai ayun malam bersama
menghabiskan waktu bersama teman hidup. Yang gaduh tinggal anak-anak yang
mengekost diloteng rumahku. Anak-anak gadis itu. Ah.. tidak satupun berani ku
dekati mereka.
Malam ini
memang berbeda dari sebelumnya, kami bertiga tidak banyak berbincang dan tenang
dengan diri masing-masing. Cangkir bening itu telah kosong, yang tersisa hanya
bubuk kopi pada dasarnya. Mamak segera mengangkat secangkir itu dan
membawanya ke dapur. Aku masih terpaku pada letakku semula, ditentang ayah.
Pada asbak sudah tergeletak dua puntung rokok, dan dia kembali membakar satu
lagi, menghembuskannya. Ayah seorang perokok-kuat, dulu sebelum Sempoerna,
rokoknya adalah Gudang Garam Filter. Dalam sehari ia biasa menghabiskan 2
bungkus rokok, ya. Jika dulu lebih dari pada itu.
Azan Isya
telah bersahut-sahutan. Langgar terjauh di sebelah timur kota telah berada
seperempat perjalanan dalam kumandang panggilanNya, yang terdekat baru memulai
dengan takbir. Ayah segera mematikan lintingnya yang belum terbakar habis.
Memperbaiki letak songkok segera ia berdiri pada ubin, melangkah
perlahan meninggalkan sofa dan beranjak pergi menuju masjid melalui pintu
depan. Dari luar terdengar:
“Nak, ke
Mesjid. Cepat.” Perintah ayah kepadaku, anak satu-satunya yang tinggal hidup
satu atap dengannya. Dan anaknya yang lain berada jauh ditempat lain untuk
sekolah.
Memang
seorang yang menakutkan dan ku hormati. Ayah. Sayang ? sudah tidak perlu lagi
ku ungkapkan, cukup doa-doaku saja yang mewakili menghadap Tuhan. Sehat dan
kedamaian, serta surga menjadi pengharapan ku kepada sang Illahi bagi ayah dan
juga mamak, mamak, mamak, seperti anjuran Sang Terakhir.
Ayah selalu
mengagumkan dengan tindak-tanduknya. Bahkan diamnya selepas solat isya ini
telah memberikan ku suatu pemahaman baru akan manusia dan pikirannya: bahwa
manusia sejatinya adalah ketenangan itu sendiri, dan riuhnya adalah bumi dan
langit tempat ia (manusia) mengabdi. Ayah pun tertidur di atas tilam,
depan televisi, masih dengan sarungnya itu. Tidak bertutup badan lagi. Nampak
kebahagian pada wajah tenangnya.
*catatan ini di tulis setelah 2 tahun saya tidak tinggal dengan kedua orangtua
13/11/2015

