Sherlock Holmes dan Pembataian Katak

Ini adalah sedikit catatan awal tahun yang
mungkin bisa menjadi resolusi ku yang tidak sengaja. muluk di tahun baru ini.
Tidak seperti wanita, aku tidak perlu mengihktiarkan untuk menurunkan berat
badan yang selalu menjadi mitos berkepanjangan di antara kehidupan mereka yang sempurna, atau salah satu teman yang ingin membaca buku berjumlah
40 eksemplar di tahun 2016, dan resolusi lainnya yang mereka inginkan.
***
Perpindahan tahun bagiku bukan hal yang
begitu istimewa. Seperti pergantian periode dalam organisasi, tahun baru adalah
suksesi yang selalu terjadi dan tidak perlu dicemaskan
apalagi diuforiakan. Ambil dan lakoni saja. Lakon dalam sebuah pagelaran
teater tidak menuntutmu menjadi seorang pemimpin, pahlawan, ataupun penjahat
seperti yang diinginkan sutradara. Lakon hanya meminta sang aktor untuk jujur
terhadap dirinya, mampu memasukan pribadi dirinya ke
dalam sebuah peran, bukan menjadi apa yang diperankannya.
Menjadi hal yang tidak terlepaskan bahwa setiap periode baru akan
memandang berbeda dan membandingkan dengan periode sebelumnya, tentang apa yang
dilakukan sekarang dan nantinya. Tidak salah untuk melihat kebelakang dan
mempelajarinya untuk kiprah yang lebih baik kedepan. Tapi itu akan keliru
ketika seseorang memaksakan diri untuk menjadi dan
menjalani apa yang dilakukan para seniornya terdahulu yang dipandang lebih baik—apa
lagi merindukan sosok tersebut untuk kembali, padahal mereka adalah
orang yang benar-benar berbeda dengan ‘kita’.
Tengok saja tokoh Sherlock Holmes yang
diperankan oleh beberapa aktor kenamaan luar negeri. Menurut beberapa teman
yang mengikuti kisahnya melalui tv serial ataupun novel, sosok Sherlock Holmes
adalah orang yang memiliki postur tubuh tinggi tegap, berpakaian rapih, dan
berwibawa, sama seperti pemeran Holmes dalam serial Sherlock, Benedict
Cumberbatch. Dalam beberapa hal semua berbanding terbalik dengan peran Holmes yang dilakoni
oleh Robert Downey jr. dalam film Sherlock Holmes produksi Warner Bros itu, dia
(Robert) mampu merubah image Holmes—seperti
di atas— menjadi sosok orang yang kocak, berpakaian kumal, kumis dan brewok yang tidak tercukur dengan rambut
sedikit panjang dan tidak tersisir. Tapi tetap membawa sosok Holmes yang fokus
dan cerdas.
Bahwa dalam sebuah peran yang
sama, tidak menjadikan semua hal yang dijalankan itu sama, sampai
terkatung-katung merindukan sosok sebelumnya untuk dilahirkan kembali dalam
periode yang baru—itu menyiksa. Belajar dari
Robert Downey jr. yang tidak rela jati dirinya ditelan oleh tokoh Sherlock
Holmes yang begitu termahsurnya—yang diperankan oleh aktor lain dan begitu mirip
dengan novelnya, dia lalu membunuh sebagian gimik dan watak tokoh tersebut
untuk Robert masukan sebagian dirinya ke dalam karakter Holmes. Jika dilihat
sebenarnya, bukan Robert yang sedang menjadi Holmes, tapi seorang Holmes yang
berakarakter Robert.
***
Ketakutan akan sesuatu di luar kebiasaan
itu menjadi belenggu—ini saklek, ini
dari dulu seperti ini. Sama saja mengurung pribadi baru dalam sebuah sistem
tradisi lama yang sukar untuk diubah. Menjadikan yang muda seperti katak dalam
tempurung—tempurung apa saya tidak tahu ? Berdoa saja, semoga katak dalam
tempurung itu tidak ber-evolusi menjadi kura-kura yang nyaman dalam rumahnya.
Katak-katak yang bertahan akan terus
melompat-lompat, membenturkan kepala, siku, dan punggungnya ke tiap sudut
dinding tempurung yang keras. Mencoba mencari celah yang mungkin dapat memberinya
sedikit udara segar. Katak lain yang lebih kuat dan liar mungkin mencoba
meretakan tempurung itu, tanpa menghiraukan dirinya akan terluka, dan mati kehabisan udara dengan badan penuh luka. Satu
lagi katak mati jadi objek pembedahan di ruang laboratorium idealisme—kemandekan.
Para ahli di laboratorium ini akan setia berjongkok
manis dipinggir kali atau kubangan air di sekitar saluran irigasi persawahan,
sembari menebar senyum rayu seperti Rintje De Roo. Menggiring kecebong-cebong
kecil yang berenangan kesana-mari dengan ranting kayu yang telah patah menuju
jaring. Tak jarang kecebong yang telah memiliki kaki juga ikut terperangkap.
Para ahli membawa mereka ke dalam akuarium untuk menjadi katak yang sehat
besar, dan kuat. Hingga dapat melompat tinggi untuk mati diujung pisau bedah
dengan keempat kakinya direntangkan dan dipaku agar tak terlepas, mencari organ dalamnya untuk bahan penilitian yang tak
kunjung selesai.
Aku sarankan untukmu kecebong-cebong baru.
Berenanglah jauh dari pinggir kali dan kubangan. Menyelamlah ke dasar yang
lebih gelap, jangan sampai menjadi korban pembedahan idealisme yang mandek. Cari aliran
air yang lebih tenang, serta tertutup rimbunnya eceng gondok dan bungai
teratai. Di situ kau akan menjadi katak yang lebih kuat dan lincah, serta racun dikulitmu menjadi benteng dan pembatas yang nyata untuk
terus hidup.
*catatan ini dibuat pada tanggal 13 Januari 2016, di Yogyakarta
*ketidak jelasan alur tulisan adalah sengaja.
*ketidak jelasan alur tulisan adalah sengaja.
