Sherlock Holmes dan Pembataian Katak

21.21 1 Comments A+ a-



poto: doc.

Ini adalah sedikit catatan awal tahun yang mungkin bisa menjadi resolusi ku yang tidak sengaja. muluk di tahun baru ini. Tidak seperti wanita, aku tidak perlu mengihktiarkan untuk menurunkan berat badan yang selalu menjadi mitos berkepanjangan di antara kehidupan mereka yang sempurna, atau salah satu teman yang ingin membaca buku berjumlah 40 eksemplar di tahun 2016, dan resolusi lainnya yang mereka inginkan.
***
Perpindahan tahun bagiku bukan hal yang begitu istimewa. Seperti pergantian periode dalam organisasi, tahun baru adalah suksesi yang selalu terjadi dan tidak perlu dicemaskan apalagi diuforiakan. Ambil dan lakoni saja. Lakon dalam sebuah pagelaran teater tidak menuntutmu menjadi seorang pemimpin, pahlawan, ataupun penjahat seperti yang diinginkan sutradara. Lakon hanya meminta sang aktor untuk jujur terhadap dirinya, mampu memasukan pribadi dirinya ke dalam sebuah peran, bukan menjadi apa yang diperankannya.
Menjadi hal yang tidak terlepaskan bahwa setiap periode baru akan memandang berbeda dan membandingkan dengan periode sebelumnya, tentang apa yang dilakukan sekarang dan nantinya. Tidak salah untuk melihat kebelakang dan mempelajarinya untuk kiprah yang lebih baik kedepan. Tapi itu akan keliru ketika seseorang memaksakan diri untuk menjadi dan menjalani apa yang dilakukan para seniornya terdahulu yang dipandang lebih baik—apa lagi merindukan sosok tersebut untuk kembali, padahal mereka adalah orang yang benar-benar berbeda dengan ‘kita’.
Tengok saja tokoh Sherlock Holmes yang diperankan oleh beberapa aktor kenamaan luar negeri. Menurut beberapa teman yang mengikuti kisahnya melalui tv serial ataupun novel, sosok Sherlock Holmes adalah orang yang memiliki postur tubuh tinggi tegap, berpakaian rapih, dan berwibawa, sama seperti pemeran Holmes dalam serial Sherlock, Benedict Cumberbatch. Dalam beberapa hal semua berbanding  terbalik dengan peran Holmes yang dilakoni oleh Robert Downey jr. dalam film Sherlock Holmes produksi Warner Bros itu, dia (Robert) mampu merubah image Holmes—seperti di atas— menjadi sosok orang yang kocak, berpakaian kumal, kumis dan brewok yang tidak tercukur dengan rambut sedikit panjang dan tidak tersisir. Tapi tetap membawa sosok Holmes yang fokus dan cerdas. 
Bahwa dalam sebuah peran yang sama, tidak menjadikan semua hal yang dijalankan itu sama, sampai terkatung-katung merindukan sosok sebelumnya untuk dilahirkan kembali dalam periode yang baru—itu menyiksa. Belajar dari Robert Downey jr. yang tidak rela jati dirinya ditelan oleh tokoh Sherlock Holmes yang begitu termahsurnya—yang diperankan oleh aktor lain dan begitu mirip dengan novelnya, dia lalu membunuh sebagian gimik dan watak tokoh tersebut untuk Robert masukan sebagian dirinya ke dalam karakter Holmes. Jika dilihat sebenarnya, bukan Robert yang sedang menjadi Holmes, tapi seorang Holmes yang berakarakter Robert.
***
Ketakutan akan sesuatu di luar kebiasaan itu menjadi belenggu—ini saklek, ini dari dulu seperti ini. Sama saja mengurung pribadi baru dalam sebuah sistem tradisi lama yang sukar untuk diubah. Menjadikan yang muda seperti katak dalam tempurung—tempurung apa saya tidak tahu ? Berdoa saja, semoga katak dalam tempurung itu tidak ber-evolusi menjadi kura-kura yang nyaman dalam rumahnya.
Katak-katak yang bertahan akan terus melompat-lompat, membenturkan kepala, siku, dan punggungnya ke tiap sudut dinding tempurung yang keras. Mencoba mencari celah yang mungkin dapat memberinya sedikit udara segar. Katak lain yang lebih kuat dan liar mungkin mencoba meretakan tempurung itu, tanpa menghiraukan dirinya akan terluka, dan mati kehabisan udara dengan badan penuh luka. Satu lagi katak mati jadi objek pembedahan di ruang laboratorium idealismekemandekan.
Para ahli di laboratorium ini akan setia berjongkok manis dipinggir kali atau kubangan air di sekitar saluran irigasi persawahan, sembari menebar senyum rayu seperti Rintje De Roo. Menggiring kecebong-cebong kecil yang berenangan kesana-mari dengan ranting kayu yang telah patah menuju jaring. Tak jarang kecebong yang telah memiliki kaki juga ikut terperangkap. Para ahli membawa mereka ke dalam akuarium untuk menjadi katak yang sehat besar, dan kuat. Hingga dapat melompat tinggi untuk mati diujung pisau bedah dengan keempat kakinya direntangkan dan dipaku agar tak terlepas, mencari organ dalamnya untuk bahan penilitian yang tak kunjung selesai.
Aku sarankan untukmu kecebong-cebong baru. Berenanglah jauh dari pinggir kali dan kubangan. Menyelamlah ke dasar yang lebih gelap, jangan sampai menjadi korban pembedahan idealisme yang mandek. Cari aliran air yang lebih tenang, serta tertutup rimbunnya eceng gondok dan bungai teratai. Di situ kau akan menjadi katak yang lebih kuat dan lincah, serta racun dikulitmu menjadi benteng dan pembatas yang nyata untuk terus hidup.

 *catatan ini dibuat pada tanggal 13 Januari 2016, di Yogyakarta
*ketidak jelasan alur tulisan adalah sengaja.