10 November ala Indomie Rebus

poto: doc
Kebayang November 1945 yang lalu di Surabaya sama seperti sekarang di Yogyakarta—Nopember 2015—musim hujan telah tiba. Saat itu mungkin Bung Tomo dengan pemuda berkumpul bersama berteduh disalah satu rumah perlindungan. Aku yakin walau saat itu udara sangat dingin, Bung dan Bung-bung yang lainnya tidak akan uring-uringan di atas kasur, berselimut tebal seperti yang aku lakukan saat ini—mager, ataupun masak Indomie rebus dengan telur dadar setengah matang di atasnya, seperti yang sering dilakukan teman saya Salman ketika hujan tiba.
Kebayang November 1945 yang lalu di Surabaya sama seperti sekarang di Yogyakarta—Nopember 2015—musim hujan telah tiba. Saat itu mungkin Bung Tomo dengan pemuda berkumpul bersama berteduh disalah satu rumah perlindungan. Aku yakin walau saat itu udara sangat dingin, Bung dan Bung-bung yang lainnya tidak akan uring-uringan di atas kasur, berselimut tebal seperti yang aku lakukan saat ini—mager, ataupun masak Indomie rebus dengan telur dadar setengah matang di atasnya, seperti yang sering dilakukan teman saya Salman ketika hujan tiba.
Betapa
gilanya catatan bersejarah pada Wikipedia Indonesia nanti: 30 Oktober
1945, Brigadir Jenderal Mallaby berhasil lolos dari rencana penyergapan oleh
pejuang Indonesia di Jembatan Merah, karena Indomie rebus ala Bung Tomo dengan
rebung runcingnya tak kunjung lunak. Atau gagalnya perobekan bendera Belanda di
Hotel Oranje hanya karena pemuda lupa beli jas hujan—takut basah.
Terlepas
dari itu, 10 November tetap menjadi hari libur nasional yang ditunggu-tunggu kehadirannya
sebagai ‘refleksi’ setahun sekali kebangkitan nasional—sisanya kemana ? Ya
paling enggak update status di Medsos biar keliatan Rodo Nasionalis.
Juga
menambah kontribusi warna merah pada deretan angka di kalender. Ngomong-ngomong
soal warna merah, jika dihubungkan dengan hal-hal yang berbau Patriotisme,
pastinya merah itu melambangkan keberanian dan semangat perjuangan. Tapi warna
merah pada kalender—menurut opini saya yang cukup ngawur—dewasa kini, malah
menjadi alasan Mood-a-Mudi ‘Ningrat’ untuk berpesta sampai dini hari.
Ataupun pemoeda-pemoeda kaum ter-lapar yang kostnya berada disekitaran
Krapyak dan Lapangan Sido Kabul, memerlukan begadang di angkringan sampai masuk
waktu solat malam, ditemani segelas kopi yang telah dingin. Pesen kopi lagi
enggak, ngobrol lama iya. Mungkin mbah Bronto yang warungnya biasa kami
kunjungi akan berkata. “Kapan muleh ne ? “ hhe... ya enggak apa-apa asal
obrolannya bermutu. Mutu ala mahasiswa yang ide-alis.
Ya semua
kembali keselera masing-masing untuk menikmati tanggal merahnya sendiri,
terutama hari-hari nasional. Toh tanggal 10 November itu sendiri sebagai
sentilan halus ke telinga saya sebagai pemuda Indonesia, kalau kemerdekaan itu
bukan semata-mata kesenangan dan update status. Jika Bung Tomo masih
hidup, *belio pasti bilang: “Cuk, kate ngono arek-arek Indonesia sak iki !”
*kata-kata yang bertanda bintang telah diubah oleh ahli bahasa Jawa Timur-an asal Banten lama tinggal di Solo.
Catatan ini
ditulis oleh saya di atas kasur dalam selimut, pada tanggal 10 November 2015 di
Yogyakarta, saat hujan turun.
