10 November ala Indomie Rebus

07.52 0 Comments A+ a-



poto: doc

Kebayang November 1945 yang lalu di Surabaya sama seperti sekarang di Yogyakarta—Nopember 2015—musim hujan telah tiba. Saat itu mungkin Bung Tomo dengan pemuda berkumpul bersama berteduh disalah satu rumah perlindungan. Aku yakin walau saat itu udara sangat dingin, Bung dan Bung-bung yang lainnya tidak akan uring-uringan di atas kasur, berselimut tebal seperti yang aku lakukan saat ini—mager, ataupun masak Indomie rebus dengan telur dadar setengah matang di atasnya, seperti yang sering dilakukan teman saya Salman ketika hujan tiba.


Betapa gilanya catatan bersejarah pada Wikipedia Indonesia nanti: 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal Mallaby berhasil lolos dari rencana penyergapan oleh pejuang Indonesia di Jembatan Merah, karena Indomie rebus ala Bung Tomo dengan rebung runcingnya tak kunjung lunak. Atau gagalnya perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje hanya karena pemuda lupa beli jas hujan—takut basah.
Terlepas dari itu, 10 November tetap menjadi hari libur nasional yang ditunggu-tunggu kehadirannya sebagai ‘refleksi’ setahun sekali kebangkitan nasional—sisanya kemana ? Ya paling enggak update status di Medsos biar keliatan Rodo Nasionalis.

Juga menambah kontribusi warna merah pada deretan angka di kalender. Ngomong-ngomong soal warna merah, jika dihubungkan dengan hal-hal yang berbau Patriotisme, pastinya merah itu melambangkan keberanian dan semangat perjuangan. Tapi warna merah pada kalender—menurut opini saya yang cukup ngawur—dewasa kini, malah menjadi alasan Mood-a-Mudi ‘Ningrat’ untuk berpesta sampai dini hari. Ataupun pemoeda-pemoeda kaum ter-lapar yang kostnya berada disekitaran Krapyak dan Lapangan Sido Kabul, memerlukan begadang di angkringan sampai masuk waktu solat malam, ditemani segelas kopi yang telah dingin. Pesen kopi lagi enggak, ngobrol lama iya. Mungkin mbah Bronto yang warungnya biasa kami kunjungi akan berkata. “Kapan muleh ne ? “ hhe... ya enggak apa-apa asal obrolannya bermutu. Mutu ala mahasiswa yang ide-alis.

Ya semua kembali keselera masing-masing untuk menikmati tanggal merahnya sendiri, terutama hari-hari nasional. Toh tanggal 10 November itu sendiri sebagai sentilan halus ke telinga saya sebagai pemuda Indonesia, kalau kemerdekaan itu bukan semata-mata kesenangan dan update status. Jika Bung Tomo masih hidup, *belio pasti bilang: “Cuk, kate ngono arek-arek Indonesia sak iki !” 

*kata-kata yang bertanda bintang telah diubah oleh ahli bahasa Jawa Timur-an asal Banten lama tinggal di Solo.

Catatan ini ditulis oleh saya di atas kasur dalam selimut, pada tanggal 10 November 2015 di Yogyakarta, saat hujan turun.