Mempersamakan-perbedaan itu bukan Alkulturasi

23.59 1 Comments A+ a-



poto: doc.

Beberapa bulan belakangan ini koflik dan kesenjangan sosial begitu gencar terdengar di media masa, tidak terkecuali  keadaan sosial yang terjadi di sekitar lingkunganku. Baik itu di kampus, atapun di pemukiman baru tempat aku mengontrak rumah. Teringat betul perasaan pertama kali berada di lingkungan baru ini: senang. Senang karena tahu tempat baru ini adalah salah satu wilayah di Kota A yang sebagian besar penduduknya warga asli A—kalau saya tidak keliru. Berangkat dari situ, aku berpikir positif akan mendampatkan hal-hal baru dan menarik, langsung dari penduduk setempat.
                 
Setiap selepas Isya, saya biasa ngopi di akngkringan yang berada tidak jauh dari kontrakan. Tidak selalu ramai, cuma terhitung satu, dua orang saja yang biasa nangkring di sana. Tentu saja satu lagi yang tidak terlupa si penjaga Angkringan, Pak Pit namanya—bukan nama asli. Beliau adalah orang pertama yang memberikan pencerahan terkait lingkungan yang baru aku tempati ini. Mulai dari kegiatan sehari-hari penduduk, nama-nama Ketua Rukun Tangga ini dan itu, juga dia bercerita tentang pemilihan Ketua Rukun Warga yang dari dulu calonnya hanya dua, dan itu-itu saja orangnya. Sampai keadaan kampung yang porak poranda ketika terjadi gempa di Kota A pada tahun 2006 lalu.
***
                 
Pak Pit menceritakan banyak hal padaku, termasuk hal–hal yang tidak seharusnya ia bicarakan kepada orang yang baru dikenalnya. Tapi tidak apalah, hitung-hitung ada teman mengobrol.  Entah angin dari mana, dari obrolan yang panjang lebar itu, Pak Pit membelok pada satu hal yang cukup mengundang antusiasku, ia bercerita tentang warga sekitar yang selalu menolak pendatang dari daerah ‘sana’. Tanpa ku bertanya lebih lanjut, dia langsung menambahkan, ‘orang-orang sana’ itu selalu membikin keributan. Bukan keributan dalam arti kekerasan, namun lebih kepada kebisingan yang mereka ciptakan. Tanpa sebab yang jelas itu, warga setempat pasti menolak ‘orang-orang sana’ yang ingin mengontrak atau kost di kampung ini, dengan selalu mengatakan: kontrakan sudah penuh.
                
Tidak hanya dari lingkungan ku berada. Kampus dalam hal ini mahasiswa, pun menawarkan hal yang sama kepada ku, terkait pandangan mereka tentang ‘orang-orang sana’. Bukan tanpa apa-api tersulut, tidak tanpa api-kayu terpanggang. Memang ada beberapa kejadian buruk terjadi di Kota ini yang disebabkan ‘orang-orang sana’, namun yang menjadi miris adalah para pendongeng ini, lagi-lagi mereka menabur bumbu perbincangan dengan hal-hal yang kurang pantas, memoles memar perbedaan makin parah. Sehingga perspektif itu pun tumbuh mengakar dalam pikiran warga setempat, bak agama yang mustahil digugat.
                 
Sangat mengecewakan adalah kawan-kawan ku yang berada dikalangan kampus. Sebagai terpelajar, yang tinggi kasta intelektualnya dalam masyarakat, tidak mampu membendung pandangan berpikir yang diskriminatif tersebut. Baik jika diam, kalau ikut berceloteh makin meng-amini pendapat  tersebut. Tan Malaka mengatakan, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. Kalau kata Pram, makin tinggi makin sadar posisi, tahu batasan-batasan—kurang lebih seperti itu.
               
Setelah mendengar pendapat teman, dan menonton film-film dokumenter, serta ilmu yang kuperoleh dari kampus, menurut pendapatku yang mungkin ngawur dan cetek ini, konflik-konflik sosial yang terjadi di Indonesia saat ini, hingga prasangka-prangka buruk antar suku, disebabkan prinsip-prinsip yang hidup di dalam masyarakat telah dikesampingkan. Prinsip apa ? Prinsip sebagai orang yang berbangsa, bersuku, beradat, dan berbudaya, mulai digantikan oleh yang lain. Jika kata Pram, yaitu digantikan oleh pola-pikir mencari persamaan. Persamaan seperti apa ? Persamaan: Jika mereka tidak sama dengan kita, maka mereka bukanlah kita, dan terima mereka yang mendekati persamaan. Jika kau berbeda sama sekali, jangan berharap lebih.
                
Katakanlah seorang Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku misalnya, menimba ilmu ke Pulau Jawa, membawa segala macam hal yang melekat ada pada mereka, yang menurut orang lain adalah hal baru. Lalu terjun kelingkungan yang benar-benar berbeda, dengan tetap membawa pola-pikir persamaan, tidak terkecuali warga asli Pulau Jawa itu sendiri. Para pendatang maupun si penerima, akan selalu menjaga jarak, dan sulit menerima yang bukan dari dalam dirinya. Proses akulturasi sebagai efek dari perbedaan sulit untuk berjalan. Padahal dari proses tersebut, dapat membangun kesadaran yang penting antar kelompok satu dengan kelompok lainnya, akan posisi dan batasan masing-masing. Sehingga terciptanya keharmonisan.
                
Sebuah keharmonisan tidak lahir dari perbenturan perbedaan satu dengan yang lain secara langsung. Melainkan adanya penghubung, yang oleh masing-masing pihak dapat diterima. penghubung itu bisa hal yang berkaitan dengan musik, olahraga, dan lain sebagainya yang bersifat universal. Misalnya sepakbola, beberapa hari yang lalu aku menonton se-kelompok orang bermain sepakbola di lapangan desa, dari bahasanya aku dapat menerka bahwa sebagian dari mereka yang bermain adalah orang Kalimantan dan sisanya adalah orang Jawa. Selama permainan berlangsung, secara alamiah watak masing-masing daerah tersebut akan keluar, dari cara penyampaian meminta bola kepada teman, memaki ketika gagal mencetak gol: yang jawa mengatakan jancuk, lainnya mengatakan bungul, dan sebagainya, tidak ada yang marah. Boleh dikatakan mereka malah tersenyum dan tertawa bersama. Ya, dari contoh kecil itu tidak dapat diambil kesimpulan yang mampu mengakomodir seluruh permasalahan ini. Paling tidak, hal tersebut dapat menggambarkan secara sekilas keadaan masing-masing watak daerah, dan saling memahami dan mengetahui posisi, serta batasan-batasan yang dapat diambil tiap individu untuk menjaga perasaan satu dengan yang lain.

Tidak hanya masalah sosial saja, masalah agraria yang terjadi di Merauke-Papua juga diakibatkan tersingkirnya prinsip warga lokal oleh pemerintah dengan kebijakan Merauke Integrated Food and energi Estate. Di mana hutan adat sebagai hal yang disakralkan oleh masyarakat adat, sebagian besar dibabat untuk memenuhi keinginan pemerintah menjadikan Papua sebagai lumbung padi Indonesia. Film MAHUZEs, karya Dhandy D. Laksono dari Ekspedisi Indonesia Biru, memberigambaran bahwa yang dibutuhkan warga Merauke bukanlah sawah, namun hutan rimba yang penuh dengan babi hutan dan pohon sagu yang melimpah. Satu lagi prinsip yang terlanggar. Bagi sebagian orang mungkin hal itu primitif, namun bagi saya, hutan-babi-sagu adalah kesejahteraan yang sesungguhnya bagi masyarakat hukum adat Merauke.
                 
Maka tidak perlu bersusah-payah mencari persamaan antar suku. Cukup menghargai prinsip orang lain, serta jangan melepaskan prinsip-prinsip perbedaan hanya demi tercapainya persamaan, dan penyamarataan antar kelompok yang jelas-jelas berbeda. Biarkan saja perbedaan itu tumbuh apa adanya, bersemi di dalam sanubari masing-masing orang. Tinggal bagaimana kau menerima dan memahami perbedaan tersebut sebagai sebuah keharmonisan dan kekayaan hidup.

*catatan ini dibuat pada tanggal 19/11/2015

1 komentar:

Write komentar
madapudyatama
AUTHOR
12 Juni 2016 pukul 08.38 delete

Beda dlm frame identitas adalah kodrat. Maka dari itu penyeragamaan adalah tindakan melawan kodrat dan karenanya ia tidak layak diperjuangkan. Namun beda scr material tidak bisa mjd kodrat. Sebab manusia tidak diciptakan untuk menderita. Bagaimana konsep persamaan dalam hal ini, boeng?

Reply
avatar